Selasa, 11 Juni 2013

Sejarah Shorinji Kempo dan Budhisme



1.      KEMPO DAN BUDHISME
± Tahun 550 M, Pendeta Budha ke-28 yaitu DHARMA TAISHI pindah dari tempat tinggalnya di Baramon – India kedaratan Tiongkok. Ia menetap di kuil SIAW LIEM SIE di Provinsi Kwa Nam. Selama pengembaraannya, Darma Taishi menyebarkan agama Budha dan mengalami banyak tantangan, hinaan dan ancaman yang nyaris merenggut jiwanya. Dari pengalamannya tersebut timbul anggapan dalam dirinya bahwa seorang calon bikshu sebaiknya juga melatih ketahanan jasmaninya, disamping membersihkan rohaninya untuk mencapai Nirwana dengan bersemi.  Dalam ajaran Budha dikatakan bahwa hidup berasal dari kosong atau tiada namun dilengkapi oleh Darma Taishi bahwa tidak ada gunanya hidup kosong atau tiada bila tidak dapat membela sesame manusia yang ditimpa kemalangan.
Darma Taishi yang bergelar pendeta Budha ke-28  selama di India pernah belajar INDO KEMPO (silat India). Berbagai tantangan yang dihadapi dalam pengembaraannya di Tiongkok membuatnya mempelajari pula berbagai aliran silat Tiongkok Kuno. Ia bertapa selama 9 tahun dan bertekad menyusun suatu ilmu mempertahankan diri yang dimaksud sebagai syarat dan mata pelajaran bagi calon Pendeta Budha. Sejak itu ilmu beladiri yang disusunnya telah menjadi bagian dalam pendidikan keagamaan pada Zen Budhisme. Nama TATMO COWSU yang sering muncul dalam cerita silat klasik Tiongkok tidak lain adalah DARMA TAISHI yang menciptakan seni beladiri SHAOLIN KUNG-FU. Seni beladiri ini diajarkan secara rahasia kepada calon Bikshu didalam kuil SIAUW LIEM SIE.

2.      MENDIRIKAN SHORINJI KEMPO
DOSHIN SO memulai dengan mendirikan aula kecil, dan member pengajaran dan filosofi pada Oktober 1947. Pada awalnya Ia tidak begitu diterima karena dianggap orang asing didaerah tersebut, dan juga pengajaran yang tidak sesuai dengan nilai-nikai yang sudah ada. Yang dating untuk mendengarkan hanya sedikit, tapi yang kembali lagi lebih sedikit lagi.
Ketika Doshin So sedang mempertimbangkan bagaimana cara yang tepat untuk mengajarkan filosofinya dalam suatu mimpi Ia bertemu dengan BUDHI DHARMA, berjenggot dan berpakaian seperti biarawan Budha berjalan dengan cepat dihadapan Doshin So. Ia berusaha berbicara pada Budhi Dharma tetapi tidak dapat mendengarnya. Budhi Dharma hanya menunjuk suatu arah dari tangannya. Doshin So berusaha memahaminya, akhirnya Ia memutuskan untuk memberikan pengajaran ZEN BUDHISME seperti ketika Ia belajar di kuil Shaolin yang kemudian Ia gabungkan dengan filosofi yang pernah ia terima. Bukan pengajaran yang berhubungan dengan peperangan untuk memenangkan lawan, tetapi lebih kepada pelatihan jasmani dan peningkatan rohani untuk kemujuan bersama. Doshin So akhirnya mengorganisir kembali sistem teknik yang telah Ia pelajari sebelumnya dan menyelaraskan dengan pemahamannya akan Zen Buhisme.
Kota Todatsu sedang mengalami kekacauan banyak penjahat dan pasar gelap setelah perang berakhir. Doshin So mengajarkan teknik Kempo kepada muridnya dengan cepat dan bersama muridnya turun kejalan untuk menantang penjahat yang ada dijalanan. Karena Ia berfikir dengan penggunaan teknik yang dikuasai untuk kebaikan hal itu adalah benar. Bersama dengan polisi setempat Doshin So berhasil mengamankan kota. Untuk memastikan muridnya tidak kembali turun kejalan, mereka harus bekerja terlebih dahulu. Doshin So mengajarkan teknik beladiri dengan melatih fisik dengan format Zen. Akhirnya semakin banyak murid baru yang dating atau bergabung dengan pelatihan tersebut.

3.      PERKEMBANGAN SHORINJI KEMPO DI INDONESIA
Sejak akhir tahun 1959 pemerintah Jepang menerima mahasiswa dan pemuda Indonesia  untuk belajar dan memperoleh pelatihan di Jepang, sebagai konsekuensi yang harus dibayar kepada Indonesia yaitu pampasan perang. Setelah Jepang kalah perang pada perang dunia II pada tahun 1945. Dari tahun ketahun hingga pada tahun 1965, ratusan mahasiswa dan pemuda Indonesia belajar di Jepang dalam hal pendidikan maupun seni beladiri seperti Karate, Judo, Ju Jiksu, maupun Shorinji Kempo.
Pada tahun 1962, dalam suatu acara kesenian yang dipertunjukkan mahasiswa Indonesia menyambut kunjungan tamu-tamu penting dari tanah air Indonesia, seorang pemuda bernama UTIN SYAHRAZ tiba di Tokyo sekitar tahun 1960 sebagai trainee pampas an. Demonstrasi yang dipertunjukkan oleh utin Syahraz menarik minat mahasiswa dan pemuda Indonesia, antara lain  INDRA KARTASASMITA dan GINANJAR KARTASASMITA untuk belajar Shorinji Kempo dipusatnya yaitu di kota Todatsu.
Untuk meneruskan seni beladiri Shorinji Kempo, Utin Syahraz (almarhum), Indra kartasasmita dan Ginanjar Kartasasmita membentuk suatu organisasi dengan nama PERKEMI (Persaudaraan Beladiri Kempo Indonesia) pada tanggal 2 februari 1966. PERKEMI bernaung di bawah KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) dan merupakan aggota penuh dari Federasi Kempo sedunia yaitu WSKO (World Shorinji Kempo Organization) yang berpusat di Kuil Shorinji Kempo, kota Todatsu  Jepang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar